Mengingat Sejarah Lewat Drama Musikal

Arus globalisasi yang kian kuat ternyata menggelisahkan Tiara Josodirdjo, pendiri Josodirdjo Foundation, sebuah gerakan sosial untuk menyosialisasikan, membudayakan kekayaan seni, budaya, dan cerita bangsa Indonesia. Tiara gelisah karena dia cemas anak Indonesia akan lebih mengenal tokoh-tokoh Barat ketimbang pahlawan-pahlawannya di negerinya sendiri. Padahal, semangat perjuangan para pahlawan seharusnya diteladani anak muda.

Kegelisahan itulah yang membuat Tiara memiliki gagasan mengangkat kisah inspiratif para pejuang bangsa ini ke dalam sebuah pertunjukan. “Saya ingin generasi muda ini ingat siapa kita, nilai-nilai apa yang kita miliki di tengah arus globalisasi,” katanya.

Sembilan tahun berkutat dengan ide tersebut, akhirnya Tiara menemukan pihak-pihak yang akhirnya sejalan dengan visi dan misinya itu. Hingga lahirlah pertunjukan “Drama Khatulistiwa”. Inilah sebuah pertunjukan panggung musikal yang akan mengisahkan perjuangan para pahlawan sejak era penjajahan VOC hingga masa kemerdekaan.

Pertunjukan tersebut sengaja ditampilkan dalam format drama musikal, karena drama seperti ini akan dapat meninggalkan kesan yang lebih mendalam di benak para penontonnya. Sehingga, diharapkan pesan yang akan disampaikan dalam pertunjukan ini akan dapat dipahami lebih baik.

“Biasanya dengan musik dan pertunjukan akan lebih bisa diingat pesan-pesan yang ingin disampaikan,” ujar Tiara yang juga menjabat produser eksekutif pergelaran ini.

Drama Khatulistiwa berdurasi 2,5 jam dan dibagi dalam dua babak dengan beberapa scene. Kisahnya akan mengolaborasikan plot masa kini dan masa lampau, sehingga tak meninggalkan kesan kekinian.

Produser Drama Khatulistiwa, Melvi Tampubolon, mengatakan, kisah tersebut akan dimulai dengan plot masa kini dan akan berlanjut kepada kilas balik mengenai cerita para pahlawan. Mulai dari masa penjajahan Daendels, perjuangan Cut Nyak Dien, Sisingamangaraja, Christina Martha Tiahahu, Dewi Sartika, Sultan Hasanuddin, Ki Hajar Dewantara, para penggerak Sumpah Pemuda hingga proklamator kemerdekaan Sukarno dan Hatta.

Menariknya, Drama Khatulistiwa, menurut Melvi, tak sekadar mengangkat kisah umum para pahlawan. Namun, mereka mencoba menyajikan kisah-kisah inspiratif yang jarang diceritakan mengenai para pahlawan ini. “Salah satunya kisah Sisingamangaraja, yang sejak kecil sudah berani tolak pinggang menghadapi penjajah. Kita mau para penonton khususnya generasi muda dapat tertular semangat Sisingamangaraja yang sedari kecil sudah berani melawan penjajah,” kata Melvi.

Namun, mengemas masa-masa panjang perjuangan bangsa bebas dari penjajah menjadi suguhan panjang hingga 2,5 jam menurut Melvi, tidaklah mudah. Untuk itu, Drama Khatulistiwa mencoba merangkumnya dengan menonjolkan beragam pahlawan yang mewakili berbagai bentuk perjuangan tak hanya perjuangan fisik.

Para pahlawan yang diangkat mewakili ciri perjuangannya masing-masing. Ada yang mengangkat senjata, melalui pemikiran intelektual, mengedepankan persatuan, hingga para pahlawan yang mewakili gendernya masing-masing.

Selain itu, untuk menampilkan pergelaran yang indah, Drama Khatulistiwa juga tak hanya memikirkan secara matang properti mereka di atas panggung. Mereka juga menghadirkan sentuhan multimedia dan memperdengarkan aransemen baru lagu-lagu nasional lewat tangan komposer ternama Addie MS.

Sebanyak 100 pemain akan meramaikan panggung Drama Khatulistiwa. Sejumlah nama kondang seperti Rio Dewanto, Kelly Tandiono, Sita Nursanti, Tika Bravani, hingga Gabriel Harvianto akan menampilkan aksi mereka di atas panggung.

Melvi dan Tiara mengatakan, semua pemain melalui proses audisi serta latihan yang cukup berat. Sebab, para pemain tak hanya harus dapat ber-acting, tapi juga bernyanyi dan menari. Namun, menurut mereka, semuanya memiliki visi yang sama yakni memperkenalkan atau mengingatkan kembali sejarah bangsa pada generasi muda.

Menyambut Hari Pahlawan, Drama Khatulistiwa akan digelar pada 19 hingga 20 November 2016 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Mereka menawarkan empat kelas tiket mulai dari Bronze seharga Rp 150 ribu, Silver Rp 375 ribu, Gold, Rp 650 ribu dan Platinum seharga Rp 875 ribu.

rep: Gita Amanda ed: endah hapsari
Artikel asli dipublikasikan di Republika